Capek Tanpa Alasan, dan Itu Ternyata Normal

Ada masa di hidup ini ketika kita merasa capek, tapi tidak tahu penyebabnya. Bukan karena lembur. Bukan karena konflik besar. Tapi badan dan pikiran sama-sama ingin berhenti sebentar.

Capek jenis ini sering datang diam-diam. Kita tetap bangun pagi, tetap bekerja, tetap mengurus rumah, tapi rasanya seperti berjalan sambil menyeret diri sendiri. Banyak orang menyebutnya malas. Padahal sering kali, itu lelah yang tidak sempat dirasakan.

Di usia dewasa, capek jarang datang karena satu kejadian besar. Ia menumpuk dari hal kecil: tuntutan stabil, tanggung jawab yang tak bisa ditolak, perasaan harus kuat setiap hari. Kita belajar tersenyum, tapi lupa beristirahat secara batin.

Ironisnya, dunia tidak memberi ruang untuk mengaku lelah. Media sosial penuh dengan orang-orang yang tampak baik-baik saja. Produktif. Bahagia. Seolah capek adalah kesalahan pribadi.

Padahal, merasa lelah tanpa alasan jelas adalah tanda bahwa kita manusia. Bukan mesin. Ada batas yang mungkin selama ini kita abaikan.

Capek bukan selalu sinyal untuk berhenti total. Kadang ia hanya meminta kita untuk:

  • berjalan lebih pelan
  • berhenti membandingkan
  • mengurangi tuntutan pada diri sendiri

Tidak semua fase hidup harus naik. Ada fase bertahan. Ada fase sekadar tidak tumbang. Dan itu sah.

Mungkin hari ini Anda tidak malas. Anda hanya capek menjadi kuat terlalu lama.

Pertanyaannya

kapan terakhir kali Anda jujur pada diri sendiri bahwa Anda lelah—tanpa merasa bersalah?

Komentar

Postingan Populer