begitulah siklusnya: marah, kecewa, tehibur, lupa.
Tidak bisa berkata kata lagi setiap lihat berita, vidio singkat, rasa campur aduk marah, kecewa dan ingin teriak tapi itu percuma rasanya. Kita ini bangsa dengan jiwa pemaaf. Hari ini marah, kecewa, bahkan merusak karena merasa dikhianati. Namun, ketika pesta digelar, ketika janji-janji manis ditebar, luka seakan sirna. Rakyat kembali tersenyum, seolah tak pernah ada luka yang menganga.
Dan begitulah siklusnya: marah, kecewa, tehibur, lupa. Berulang-ulang, dari zaman ke zaman. Namun, siklus itu tak berhenti di sana. Akan datang lagi momen ketika suara rakyat ingin didengar, ketika aspirasi kembali digemakan. Rakyat turun ke jalan, menulis di media, menyuarakan hati dengan lantang. Tapi sering kali suara itu hanya menjadi gema sesaat, hilang ditelan hiruk pikuk pesta berikutnya.Kita pun kembali berjalan di lingkaran yang sama. Marah, kecewa, terhibur, lupa — lalu berteriak lagi menyampaikan aspirasi, berharap kali ini didengar sungguh-sungguh. Tetapi roda sejarah kadang berputar bukan untuk maju, melainkan untuk mengulang.
Maka, jangan heran bila sejarah kita terasa seperti lingkaran, bukan garis lurus. Yang salah bisa kembali berkuasa, yang menipu bisa lagi dipercaya. Sebab ingatan kita sering lebih pendek daripada rasa kecewa itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar