Senja menggantung di sudut kelam, sinarnya redup, seolah malu menyentuh gelap yang merajai. Langit, yang dulunya biru cerah, kini merona tembaga, perlahan tersapu oleh bayang malam. Dalam keheningan itu, waktu terasa membeku, menyisakan perasaan hampa yang bergulir lambat. Cahaya terakhir melarikan diri, meninggalkan sudut-sudut yang semakin suram, di mana bisik angin dan bayangan bersekutu menciptakan puisi kelam yang tak berakhir.
Langganan:
Postingan (Atom)
Antara Realita, Ekspektasi, dan Aplikasi Mental Health
Ada satu fase dalam hidup yang kalau diingat-ingat lagi, rasanya masih bikin mengelus dada. Fase itu terjadi saat anak pertamaku memasuki us...
-
Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak kecelakaan hebat yang mengubah arah hidupku. Peristiwa itu bukan sekadar sebuah kejadian yang terca...
-
Jika ada orang yang paling mengerti arti ketangguhan sejati, itu adalah Ibuku. Melihat bagaimana beliau melangkah dalam hidup—menghadapi ...
-
Senja menggantung di sudut kelam, sinarnya redup, seolah malu menyentuh gelap yang merajai. Langit, yang dulunya biru cerah, kini merona tem...